Buzzword = Gimmick, tapi Penting di Marketing
Buzzword itu sederhananya adalah kata atau istilah yang sedang populer dan sering dipakai dalam suatu industri atau komunitas, biasanya karena istilah itu dianggap mewakili tren, konsep, atau masalah tertentu.
Contoh di dunia marketing/AI:
- AI Agent
- Personal Branding
- Digital Transformation
- Growth Hacking
- Customer Experience
- Community-led Growth
- Zero-party Data
- Creator Economy
- Prompt Engineering
Tapi ada satu hal menarik:
Buzzword bukan cuma soal kata yang populer. Ia adalah shortcut untuk masuk ke percakapan yang sedang terjadi di kepala target market.
Kenapa penting di marketing?
Karena orang tidak mencari solusi dengan bahasa yang selalu sama dengan bahasa kita.
Misalnya kamu punya produk yang sebenarnya adalah:
“Sistem untuk membantu bisnis mengotomatisasi pekerjaan menggunakan AI.”
Kamu bisa menjualnya seperti itu.
Tapi kalau target market sedang ramai membicarakan AI Agent, maka:
“Cara bikin AI Agent yang bisa jadi asisten pribadi bisnis.”
akan terasa jauh lebih relevant bagi mereka.
Produknya bisa hampir sama. Bahasanya yang berubah.
Buzzword punya 4 fungsi penting
1. Menangkap attention
Ketika orang melihat: “AI Agent”, otaknya langsung mengenali: Oh, ini topik yang sedang gue dengar.
Dibanding: “Otomatisasi proses kerja berbasis model bahasa.”
Yang kedua mungkin lebih akurat, tapi jauh lebih berat.
2. Menunjukkan bahwa kamu memahami konteks mereka
Misalnya target market sedang ramai membicarakan “Personal Branding”.
Kalau kamu bicara: “Cara mendapatkan klien dari personal branding tanpa harus menjadi influencer.”
Kamu langsung masuk ke percakapan yang sudah ada di kepala mereka.
3. Mempermudah positioning
Buzzword bisa menjadi semacam label kategori.
Contoh:
“Saya mengajarkan AI.” — terlalu luas.
vs.
“Saya mengajarkan AI Agent untuk solopreneur.” — lebih mudah dipahami.
Orang langsung punya gambaran: produk ini masuk kategori apa dan buat siapa.
4. Memanfaatkan existing demand
Ini yang menurutku paling penting.
Kalau kamu menciptakan istilah baru — “Business Cognitive Automation Framework” — kamu harus mendidik pasar dari nol.
Tapi kalau kamu masuk lewat istilah yang sudah dicari dan dibicarakan: AI Agent — pasarnya sudah melakukan sebagian pekerjaan marketing untukmu. Kamu tinggal menjelaskan: “Oke, kamu sudah tahu AI Agent. Sekarang saya tunjukkan bagaimana cara menggunakannya untuk X.”
Tapi hati-hati: buzzword bukan marketing strategy
Ini jebakan yang sering terjadi. Karena suatu istilah sedang viral, bukan berarti kita harus memasukkannya ke semua konten.
Misalnya: “Gunakan AI Agent untuk meningkatkan personal branding dengan digital transformation dan growth hacking.”
Semua buzzword masuk, tapi tidak ada maknanya.
Menurutku formula yang lebih sehat:
Buzzword → Problem → Insight → POV → Solution
Contohnya, untuk topik AI Agent: banyak orang mengira AI Agent = chatbot yang lebih pintar. Padahal perbedaannya ada pada kemampuan menjalankan pekerjaan, bukan sekadar menjawab. Karena itu, bisnis kecil sebenarnya bisa menggunakannya untuk pekerjaan administratif yang repetitif.
Baru kemudian: tunjukkan solusi kamu.
Jadi buzzword adalah pintu masuk, bukan isi rumahnya.
Dan ini sangat relevan dengan cara membangun konten Threads: kamu sebenarnya tidak perlu selalu mencari ide konten baru. Kamu bisa memantau istilah atau topik yang sedang naik, lalu menghubungkannya dengan expertise + POV kamu.