Membangun Workflow AI untuk Generate 3.000 Gambar Iklan Per Minggu
Gambaran Umum
Video ini merupakan episode pertama sesi Builder Story, yaitu forum berbagi pengalaman dari orang-orang yang membangun produk, workflow, atau solusi berbasis teknologi. Narasumber utama adalah Andre Tansil, seorang AI product specialist, mentor Growth Circle, serta salah satu pengurus AI Club.
Topik utama yang dibahas adalah pengalaman Andre membangun sistem untuk menghasilkan sekitar 3.000 gambar iklan per minggu bagi sebuah agensi digital internasional yang berbasis di Hong Kong.
Latar Belakang Proyek
Andre awalnya dihubungi oleh sebuah agensi digital yang menangani banyak brand. Agensi tersebut membutuhkan produksi gambar iklan dalam jumlah besar:
- Setiap brand dapat membutuhkan ratusan hingga sekitar 1.000 gambar.
- Total kebutuhan mencapai sekitar 3.000 gambar per minggu.
- Proses tersebut dikerjakan oleh kurang dari lima orang.
- Menambah jumlah tenaga kerja dianggap bukan solusi utama karena masalahnya terletak pada efisiensi proses dan struktur workflow.
Tools yang tersedia saat itu, seperti OpenArt, belum mampu memenuhi kebutuhan agensi, terutama dalam hal:
- Produksi gambar secara massal.
- Konsistensi produk dan identitas brand.
- Otomatisasi proses.
- Penghematan biaya dan waktu.
Karena itu, Andre dan klien memutuskan untuk membuat solusi khusus.
Prinsip Utama: Menjual Value, Bukan Sekadar AI
Andre menekankan bahwa meskipun teknologi AI berkembang sangat cepat, prinsip dasar dalam menjual jasa atau produk tetap sama: yang dibeli klien adalah nilai atau solusi.
Menurutnya, seseorang perlu memahami:
- Keahlian yang dimiliki
- Masalah atau pain point klien
- Solusi yang dapat diberikan
- Kebutuhan pengguna dari sudut pandang mereka
Ia juga menyoroti tiga kemampuan penting:
- Skill mengulik: kemampuan menggali masalah dan mencari solusi sampai selesai.
- Basic knowledge: pemahaman dasar agar dapat berkomunikasi secara efektif dengan AI dan teknologi.
- Empati: kemampuan melihat masalah dari perspektif pengguna, bukan hanya dari sudut pandang pembuat solusi.
Tahapan Pembangunan Produk
1. Membuat MVP
Pada tahap awal, Andre membuat Minimum Viable Product (MVP) untuk menguji apakah solusi tersebut sesuai dengan ekspektasi klien.
Teknologi yang digunakan saat itu antara lain:
- n8n untuk membangun logika workflow dan backend.
- Lovable untuk membuat antarmuka pengguna.
Kombinasi ini dipilih karena memungkinkan pembuatan prototipe dengan cepat, sekitar satu hingga dua hari. Tujuannya adalah mendapatkan masukan dari pengguna sebelum membangun sistem secara penuh.
2. Trial and Error
Tantangan terbesar bukan hanya menentukan ide, melainkan membuat workflow yang benar-benar dapat bekerja pada kondisi teknologi AI saat itu.
Pada awal 2025, model AI untuk pembuatan gambar masih memiliki banyak keterbatasan. Andre harus:
- Membaca dokumentasi.
- Mencari referensi di forum dan GitHub.
- Menguji berbagai pendekatan.
- Melakukan banyak penyesuaian.
- Menerima kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.
Ia menekankan bahwa hasil dari AI tidak selalu benar, sehingga pengguna tidak boleh sepenuhnya bergantung pada AI tanpa melakukan verifikasi dan pengujian sendiri.
3. Beralih ke Sistem Hybrid
Setelah MVP berhasil, sistem dikembangkan menjadi platform yang lebih stabil dengan kombinasi:
- n8n untuk core logic pada versi awal.
- Golang untuk komponen pendukung dan efisiensi resource.
- React untuk frontend.
Golang digunakan karena dianggap lebih hemat resource dan membantu struktur sistem menjadi lebih jelas. Fungsi seperti login, upload file, dan download gambar ditangani oleh Golang, sedangkan logika utama pembuatan gambar pada awalnya tetap berada di n8n.
Pada versi yang lebih baru, workflow utama akhirnya dipindahkan seluruhnya ke Golang setelah sistem dianggap cukup stabil.
Cara Kerja Workflow Pembuatan Gambar
Sistem yang ditampilkan memiliki struktur berbasis brand dan produk. Beberapa komponen yang disimpan meliputi:
- Data brand.
- Produk.
- Referensi iklan kompetitor.
- Contoh iklan yang dianggap berhasil.
- Font brand.
- Brand brief.
- Copy atau teks iklan.
- Referensi gambar.
- Arahan khusus, seperti tema dan warna.
Secara umum, alurnya adalah:
- Pengguna mengunggah produk dan referensi gambar.
- Sistem menganalisis gambar menggunakan model bahasa atau vision model.
- Sistem menyusun prompt berdasarkan brand brief, produk, font, referensi, dan arahan pengguna.
- Prompt dipecah menjadi beberapa instruksi gambar.
- Gambar dibuat menggunakan berbagai model image generation.
- Beberapa gambar dibuat secara paralel agar proses lebih efisien.
- Pengguna memilih hasil yang paling sesuai atau melakukan penyesuaian.
Sistem ini juga mendukung penggunaan file CSV berisi copy iklan agar teks yang dihasilkan tetap sesuai dengan materi yang telah disediakan brand.
Konsistensi Brand dan Font
Salah satu kebutuhan penting dalam proyek ini adalah menjaga konsistensi visual antar-gambar. Karena itu, sistem menyimpan berbagai elemen brand, termasuk font.
Andre menjelaskan bahwa model gambar tidak selalu memahami nama font hanya dari teks. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah memberikan gambar atau screenshot font sebagai referensi visual. Dengan demikian, model dapat membedakan penggunaan font untuk:
- Judul.
- Subtitle.
- Elemen teks lainnya.
Pendekatan ini merupakan hasil eksperimen dan pengujian berulang.
Model AI yang Digunakan
Dalam perkembangannya, Andre mencoba beberapa model dan tools. Pada periode awal, ia menggunakan beberapa model gambar yang tersedia saat itu. Dalam versi terbaru, ia lebih banyak menggunakan GPT Image karena:
- Kualitas gambar baik.
- Teks dalam gambar lebih akurat.
- Posisi elemen dapat diarahkan dengan lebih baik.
- Biayanya relatif terjangkau jika dibandingkan dengan layanan lain.
Kekurangannya adalah waktu generasi yang lebih lama, sekitar satu hingga tiga menit per gambar. Untuk mengatasinya, sistem membuat beberapa gambar secara paralel, kemudian memilih hasil terbaik.
Penanganan Error dan Konten yang Ditolak
Workflow juga memiliki mekanisme fallback. Jika sebuah permintaan gambar gagal beberapa kali dengan error yang sama, sistem akan:
- Mengidentifikasi kemungkinan masalah pada prompt.
- Menggunakan template prompt alternatif yang lebih aman.
- Mencoba membuat ulang gambar.
- Menghentikan proses jika tetap gagal.
Andre menekankan bahwa sistem tidak langsung menggunakan prompt yang terlalu aman sejak awal karena dapat membatasi kreativitas dan menurunkan kualitas hasil.
Biaya dan Perkembangan Proyek
Andre menyebutkan bahwa:
- Versi pertama proyek bernilai sekitar US$1.000 dan dikerjakan dalam waktu sekitar satu bulan.
- Versi-versi berikutnya memiliki nilai sekitar US$2.000 per proyek.
- Sistem telah berkembang hingga sekitar versi kelima.
- Biaya penggunaan AI untuk proyek tersebut berada di kisaran US$600 per bulan, berdasarkan penjelasan dalam diskusi.
- Sistem telah menghasilkan sekitar 30.000 gambar dalam data yang ditampilkan.
Ia juga menjelaskan bahwa sistem menggunakan basis yang sama untuk pengembangan berulang, sehingga penambahan fitur berikutnya menjadi lebih efisien.
Pentingnya Hubungan dengan Klien
Menurut Andre, klien terus melakukan repeat order bukan hanya karena hasil teknis, tetapi juga karena adanya:
- Kepercayaan.
- Komunikasi terbuka.
- Diskusi bersama mengenai pengembangan produk.
- Kesamaan tujuan antara klien dan pembuat sistem.
Ia memosisikan klien sebagai bagian dari tim produk, sedangkan dirinya berperan sebagai engineer yang membangun mesin dan workflow.
Pengembangan ke Video dan 3D
Selain gambar, Andre juga mulai mengeksplorasi workflow untuk video. Ia menjelaskan bahwa workflow video lebih kompleks karena pada dasarnya perlu menggabungkan beberapa proses gambar.
Ia juga membahas penggunaan Three.js untuk:
- Augmented reality dan virtual reality.
- Visualisasi interaktif.
- Komponen partikel dan objek 3D.
- Pembuatan game atau pengalaman visual berbasis web.
Menurutnya, banyak use case baru dapat ditemukan jika seseorang mau terus bereksperimen dan mengulik teknologi.
Kesimpulan Utama
Pelajaran penting dari pengalaman Andre adalah:
- Mulai dari masalah nyata, bukan sekadar mengikuti tren AI.
- Bangun MVP dengan cepat untuk menguji kebutuhan pengguna.
- Jangan takut trial and error karena workflow yang stabil biasanya lahir dari banyak kegagalan.
- Pahami kemampuan dan keterbatasan setiap model AI.
- Gunakan kombinasi teknologi yang sesuai, tidak harus selalu membangun semuanya dari nol.
- Utamakan konsistensi dan usability, bukan hanya hasil yang terlihat menarik.
- Bangun hubungan jangka panjang dengan klien melalui komunikasi dan kepercayaan.
- Terus mengikuti perkembangan AI karena tools dan model berubah sangat cepat.
Video ditutup dengan ajakan untuk bergabung dengan AI Club dan mengikuti sesi Builder Story berikutnya.
Sebagai “otak” pusat untuk agentic workflow, layanan ini kini berfokus pada strategi dan manajemen agen dalam skala besar.
Lingkungan coding yang didedikasikan untuk implementasi fitur siap produksi.
Tangan kanan untuk eksekusi operasional langsung dari terminal kamu.